Gunung Lawu 3265m DPL,
Surakarta – Solo
Berawal perjalanan dari kampung inggris di Pare, Jawa
Timur. Saya dan kedua teman saya, Jonathan Klemens yang biasa di panggil Joe
dan Teguh Ariyanto yang akrab di panggil Tiar. Kami bertiga berangkat ke
stasiun Kediri, dengan menggunakan kereta Kahuripan menuju stasiun Solo
Balapan. Setelah sekian lama perjalanan di kereta, akhirnya kami pun sampai di
Solo. Di Solo kami bertemu dengan Citra Rinjani yang biasa di panggil Arin.
Arin berangkat dari Jakarta menuju Solo sendirian. Setelah bertemu Arin, Kami
Berempat di Jemput oleh teman joe di stasiun Solo Jebres. Iwan yang menjemput
kami untuk bermalam di rumahnya. Dia adalah mahasiswa UNS, yang hobinya juga
mendaki gunung. Setelah sampai di rumahnya Iwan, kami pun istirahat dan
mempacking ulang tas carier kami. Setelah membereskan tas, kami pun tidur.
Pagi hari kami bangun untuk menuju gunung Lawu dengan
menggunakan Bis. Dengan membayar 10.000 rupiah kami sampai di terminal. Lalu di
lanjutkan lagi menuju pos basecamp Cemoro Kandang dengan menggunakan mobil elf
carry dengan membayar 5.000 rupiah. Setelah sampai kami pun mendaftar untuk
mendaki gunung Lawu, dan membaca peta gunung Lawu. Setelah Istirahat 15 menit,
kami langsung memulai penanjakan ke Pos 1. Jalur yang kami tempuh adalah Cemoro
Kandang, Jalur terpanjang dari Jalur lainnya yang berada di gunung Lawu. Jalur
air dan tanah lembab. Tidak beberapa lama kami sampai di Pos 1 untuk Sarapan
pagi. Kami memasak mie goreng dengan sosis. Setelah makan kami pun beres-beres
dan langsung berangkat menuju Pos 2. Perjalanan cukup panjang dari Pos 2 ke Pos
3, tapi kami masih tetap semangat untuk mendaki. Karena ini baru awal dari tes
mental di pegunungan. Pemandangan sangat indah melewati jalur Cemoro Kandang,
kami mengitari gunung yang sampingnya Jurang. Di pejalanan kami mendapatkan
buah sawo yang banyak dengan airnya. Kami berempat dikasih buah sawo oleh
Pendaki dari Solo. Memang benar kata orang, Orang-Orang Solo Jawa Tengah.
Sangat sopan dan peduli ke sesama. Setelah berjalan lagi, kami sedikit
kelelahan karena Pos 2 ke Pos 3 rute paling panjang dan kami kekurangan tidur
waktu malam hari. Akhirnya kami tidur di tengah jalan. Setelah tidur beberapa
menit, Kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3. Waktu sampai di Pos 3 hari sudah mulai gelap.
Kami beristirahat di Pos 3 dan memasak untuk makan malam. Niatnya kami memasak
nasi, dengan Sosis. Tapi karena kebanyakan air, akhirnya menjadi bubur-buburan.
Rasa bubur itu cukup asin dan pedas karena kebanyakan lada dan garam. Kami makan
sedikit tidak mood untuk makan. Tapi karena merasa sayang makanan akhirnya kami
pun makan dengan terpaksa. Setelah makan kami langsung berjalan menuju Pos 4. Dekat
dari Pos 3, kami mengisi persedian air di Sendang Panguripan. Mengisi 1 drigen
air. Setalah itu kami melanjutkan perjalanan. Diperjalanan malam itu, di temani
angin kencang dan jalur yang mutar-mutar. Kami menikmati pemandangan keindahan
malam kota Solo. Dan selalu kami berkomentar ‘bagus ya city lightnya’. Kami banyak istirahat saat menuju Pos 4,
karena kami berjalan sudah melampaui batas stamina kami. Di saat kami sudah
lelah dan tidak juga melihat Pos 4. Kami berniat untuk mendirikan tenda. Arin
sudah sangat lelah dan ngantuk, dan kami tetap membujuk dan menyemangati Arin
untuk tetap tahan agar bisa sampai ke Pos 4. Setelah kami melewati jalur
memutar itu dan di temani angin kencang, akhirnya kami sampai juga di Pos 4.
Sesampai di pos 4 kami langsung mendirikan tenda dan tertidur lelap.
Setelah tidur semalam akhirnya kami merasa stamina kami
pulih kembali. Tapi Joe dan Arin masih tertidur lelap. Saya bersama Tiar
menikmati pagi di Pos 4, memang indah ciptaan tuhan. Di pagi hari saya dan tiar
melihat gunung sumbing dan merapi. Bisa terlihat jelas gunung-gunung itu saat
pagi hari. Tapi sayangnya kamera saya tidak bisa mendapatkan 4 gunung itu.
Setelah saya kembali ke tenda, saya membangunkan Arin dan Joe. Dan kami sarapan
Roti yang kami buat malam hari. Dan sarapan itu ditemani kopi susu. Setelah
beres-beres tenda kami langsung berangkat menuju Pos 5. Selama perjalanan itu
kami selalu mencium bau kemenyan. Kami kembali melewati samping gunung dan
pinggirnya jurang. Setelah beberapa lama berjalan kami melewati Pasar gubrah
atau yang di sebut pasar setan, dan saya melihat Pos 5 sudah tidak ada. Dan
langsung menuju Hargo Dalem, di tempat ini sangat terkenal dengan warung mbok
Yem. Warung ini sudah cukup lama ada, sejak orang tua saya mendaki gunung ini
20 tahun yang lalu. Dan hanya gunung ini yang terdapat warung di atas gunung.
Setelah sampai, Kami langsung beristirahat di Tempat mbok Yem untuk makan
siang. Harganya cukup murah 1 porsi soto ayam 7.000 rupiah dan gorengan 1.000
rupiah. Setelah kami menaruh barang di warung mbok Yem, tepatnya sore hari
menjelang malam hari. Kami berempat langsung menuju Puncak Gunung Lawu yang
bernama Hargo Dumillah. Dari Hargo Dalem nemuju Hargo Dumillah menempuh waktu
30 menit. Sesampai di atas kami pun bersyukur kepada tuhan, karena di berikan
keindahanNYA. Kami berfoto-foto dan menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk
merayakan karena telah sampai puncak. Hanya beberapa menit kami di puncak,
karena kabut tebal dan cuaca mendung. Kami langsung turun dan ketempat warung
mbok Yem. Di situ kami langsung mendirikan tenda untuk menaruh barang-barang
kami. Setelah selesai mendirikan tenda, kami memasak makan malam, dan kami
mengobrol-ngobrol. Setelah memasak, saya berkenalan dengan pendaki lain. Dia
bernama Fredi, tapi dia lebih suka di panggil Kampret. Nama yang lucu. Dia
bilang itu adalah nama rimba dia. Akhirnya kami bercerita-cerita tentang Gunung
Lawu ini, dan dia mengajak kami berempat untuk pergi ke Pasar Dieng atau pasar
Setan. Dan sambil ngobrol mas Kampret membuat api unggun untuk menghangatkan
kondisi di hargo dalem. Setelah lama bercerita akhirnya pun saya memutuskan
untuk tidur.


Setelah 2 malam di gunung Lawu, pagi hari saya di
bangunkan oleh Tiar untuk pergi ke puncak lagi. Tapi kondisi saya kurang enak,
jadi saya lebih memilih untuk tidur. Sekitar jam 8 pagi saya bangun, saya makan
mie rebus telor. Alhamdulillah membuat kondisi saya pulih kembali. Setelah itu,
Tiar, Joe dan Arin datang. Dan mereka pun makan pagi terlebih dahulu sebelum
berangkat ke pasar Dieng. Sesampai di pasar Dieng saya hanya melihat tumpukan
batu seperti kuburan dan kondisi suasana itu membuat bulu kuduk saya naik. Dan
sedikit pusing kepala saya, saya pun meminum air putih untuk menyegarkannya.
Selama setengah jam saya berada di pasar dieng, saya bertemu orang sedang
bersemedi. Dan setelah memutar-mutar di pasar Dieng kami pun berencana untuk ke
rumah botol. Mas kampret sedikit lupa jalan pulang, dan Arin kontan langsung
ngucapin “Mas!” Arin sedikit panik. Dan setelah bertanya-tanya kepada orang
yang bersemedi akhirnya kami bisa ke rumah botol. Kami pun sekarang berada di
rumah botol. Rumah botol ini terbuat dari sampah-sampah yang berada di gunung
Lawu. Setelah kami berwisata ke rumah botol. Kami kembali lagi ke warung mbok
Yem untuk packing carier. Sesampai di warung mbok Yem kita pun makan lagi untuk
mengisi perut yang lapar, sesudah makan langsung berangkat menuju pos base camp
cemoro Sewu. Di perjalanan menuju pos bawah, kita melewati sendang derajat.
Konon ceritanya, mata air ini jika kita mandi di sini bisa membuat derajat kita
lebih tinggi dari sebelumnya. Karena cuaca dingin saya hanya meminum air
sendang derajat. Melalui jalur cemoro Sewu, hanya bebatuan yang ada. Jalur ini
sudah di buat oleh pendaki, dibuat dengan dasar batu seperti tangga. Di dari
pos 2 ke pos 1 ada tragedi lucu, joe berlari saat turun. Karena tidak bisa
mengerem larinya. Dia pun memanggil saya agar menahanya, saya pun langsung
menahan Joe dengan tas carier saya. Setelah saya tahan, joe pun terjatuh karena
kurang seimbang. Dan kita semua ketawa tebahak-bahak. Itu sifat Joe, petakilan.
Tapi karena sifatnya yang itu membuat kita semua tertawa. Sesampai di pos base
camp cemoro Sewu, kira-kira pukul 5 sore hari. Kita pun kehabisan angkot, jadi
terpaksa untuk menginap di pos. dan mas Kampret langsung pergi kerumahnya.
selesai






No comments:
Post a Comment