Gunung
Papandayan 2665 mdpl , Garut
15
January 2012
Perjalanan
awal saya di awal tahun baru 2012, saya berangakat dari rumah di bintaro jam
16.40 . dan saya menunggu Jonathan Klemens (Joe) di pengkolan point square
Lebak bulus. Saya bermula janjian dengan Joe di tempat itu, dan ternyata saya
datang lebih awal. Jadi saya memutuskan untuk pergi terlebih dahulu ke Terminal
Kampung Rambutan. Dengan membayar 3000 rupiah saya sampai juga di Terminal
tersebut dengan menggunakan Kopaja kuning dengan no 509. Di Terminal Kampung
Rambutan saya bertemu Citra Rinjani (Arin) dan Irfan tepat jam 18.30 Joe pun
belum datang juga, Jadi kita harus menunggu Joe. Setelah beberapa menit
kemudian Joe akhirnya datang, dan setelah itu kita berempat berangkat dengan
menggunakan bis antar kota karunia bakti, jam 19.28 kita berangkat dari
terminal Kampung Rambutan. Dan setelah nawar-nawar harga, memang kita harus
membayar bis tersebut dengan 35.000 rupiah.
![]() |
| I am |
![]() |
| Pemandangan Cikuray dari atas mobil |
Saat di dalam bis, kita ke asikan mengobrol.
Dan saya terjatuh dari kursi sampai tangga bis itu karena rem mendadak. Yang
saya dapat hanya tawaan dari Joe dan Arin. Setelah selama kurang lebih 5 jam
kami di dalam bis, kami akhirnya sampai di terminal Guntur. Kami berniat untuk
bermalam di terminal tersebut. Setelah mencari-cari tempat peristirahatan,
akhirnya kami dapat di masjid Jami al-mubarok. Masjid ini depan terminal
Guntur. Setelah menaruh barang-barang kami. Kami memutuskan untuk makan
terlebih dahulu. Karena perut sudah kenyang akhirnya kami tidur…
![]() |
| Irfan |
![]() |
| Citra Rinjani |
16
January 2012
Dari
subuh jam 4.30 pagi kita bangun, dan
kita mempacking ulang bawaan barang kita. Setelah kita selesai beres-beres,
kita akhirnya berangkat lagi dari terminal Guntur menuju Alun-alun Cisurupan.
Dengan membayar 5000 rupiah, kami di menaiki mobil angkot. Kira-kira 1 jam kami
sudah sampai di Cisurupan. Sekarang jam menujukan jam 7.30 pagi, kami sedikit
berjalan kaki menuju pos papandayan, karena kami tidak ingin menaiki ojek.
Akhirnya kami menumpang di warung warga, untuk beristirahat sebentar. Setelah
kami mencari angkutan ke pos Papandayan, akhirnya kami dapat mobil carry pick
up. Kami menyewanya 50 ribu. Kami hanya berempat, mungkin sedikit mahal buat
kami. Akhirnya kami berangkat jam 8.15 dari Cisurupan Ke Pos Papandayan.
Akhirnya kami sampai di Pos Papandayan jam 9.22 , Kami makan pagi terlebih
dahulu di warung, karena sepi, jadi hanya ada 1 warung yang buka. Dan belum
kita ke mendaki papandayan, kita membayar uang retribusi dengan jumlah 5000
rupiah. Setelah kita membayar, kita berdoa terlebih dahulu.
![]() |
| Irfan, Arin, Joe, Alief di kawah lama |
![]() |
| Motor pun bisa mendaki |
Jam 10.00
16 January 2012
Kita
memulai awal pendakian gunung papandayan, Awal perjalanan, kita melewati
bebatuan yang menuju kawasan kawah lama. Kawah itu masih mengeluarkan asap
putih dan bau belerang. Setelah beberapa perjalanan kita beristirahat di deket
kawah itu dan melakukan foto-foto. Setelah kami beristirahat, akhirnya kami
berjalan lagi melewati kawah tersebut. Setelah beberapa menit kami melewati
kawah tersebut, kami akhirnya sampai di tempat yang menurut kami sangat enak.
Tidak jauh dari kawah lama, ada rumput hijau. Disana kami bisa tidur-tiduran.
Melepas beban yang kami bawa, sambil tidur-tiduran. Kita hanya menghabiskan
beberapa menit saja untuk tidur-tiduran. Setelah beristirahat, kita melanjutkan
perjalanan kembali. Tidak jauh dari tempat istirahat kita, saya melihat depan
saya jurang. Bekas longsoran tahun 2002 itu, ternyata kita salah jalan. Dan
akhirnya kita kembali lagi. Dan tidak ada jarak 5 meter dari longsoran tersebut
ada jalan menuju ke bawah, akhirnya kami sadar bahwa jalan itu juga bisa di
lalu oleh motor. Kami pun turun menyusuri jalan itu. Dan setelah beberapa menit
kami menemukan aliran sungai kecil. Saya pun meminum air tersebut untuk
menambah stamina. setelah aliran sungai, ada tanjakan. Kami menanjak kembali.
Setelah tanjakan kami pun beristirahat sejenak. Sedang asik-asiknya istirahat,
kami beristirahat ada penduduk setempat yang teriak kepada kita. Bahwa jalur
yang kita lalu salah. Tapi itu pun suara samar-samar. Akhirnya saya memutuskan
untuk kembali ke aliran sungai. Awalnya saya ingin mengambil jalur menanjak
melalui longsoran tersebut, untung sebelum saya menanjak ada warga yang memberi
tahu bahwa jalan tersebut jauh. Jadi kita sebenarya tadi melalui jalur yang
benar. Dan warga tersebut bilang “kalau kalian sudah sampai di atas ada 2 arah,
yang kekiri menuju pondok salada yang ke kanan menuju bandung. Wow… Bandung…
kita bisa menuju bandung hanya melewati gunung Papandayan. Akhirnya kami menuju
jalur yang di kasih tahu oleh warga tersebut. Jalur itu seperti jalur air
menanjak. Kira-kira kita melewati tanjakan tersebut kurang lebih 30 menit.
Setelah kami sampai di atas tanjakan tersebut, kami beristirahat lagi. Itulah kami, kami tidak mengejar target. Karena kami bukan
pecinta alam, tapi penikmat alam. Kami menikmati pemandangan indah dari
atas tersebut. Kawah, longsoran, jalur yang tadi kita lewatin, semua terlihat
dari ketinggian itu. Setelah kami selesai menikmati pemandangan dan sebatang
coklat. Kami melanjutkan kembali perjalanan itu, kita melihat aliran air yang
di bungkus oleh pipa plastik berwarna biru. Kita menelusuri jalur itu, dan kita
melewati jalur yang diapit 2 tebing kecil. Setelah menelusuri jalur itu, kami
menemukan jalur yang membagi 2 kiri ke pondok salada dan kekanan ke bandung.
Kami mengambil kiri, gerbang menuju pondok salada kecil, hanya muat 2 orang
jika didempetkan. Hari semakin sore, kami menelusuri hutan kembali, di gunung
ini kami sedikit kesusahan karena tanda yang di buat pendaki lain hanya
sedikit. Setelah kami melalui jalur hutan tersebut kami menemukan pondok
salada. Pondok salada ini lapangan rumput yang luas, akhirnya kami beristirahat
kembali. Dan kami di sini pun memasak untuk makan siang. Good job klemens,
akhirnya kita bisa masak nasi juga. Nasi yang kita buat kali ini benar-benar
nasi. Bukan bubur. Kami akhirnya masak nasi goreng sosis dan meminum air jahe.
Wow… lengkap sudah pesta kita kali ini. Dan sebatang rokok 234, yang membuat
pesta kita semakin lengkap. Kami tiba di pondok salada jam 15.25 dan selesai
istirahat kita mendaki kembali. Kita mendaki melewati jalur cepat, jalur
bebatuan. Kita berangkat dari pondok salada jam 17.09, sesampai di jalur batu
itu kami harus mengeluarkan banyak tenaga. Karena tanjakan itu setinggi bahu
rata-ratanya. Dan saat kita berada di jalur itu, hujan gerimis. Kami menyiapkan
jas hujan dan bag cover agar tas kami tidak kehujanan. Karena saya tidak
membawa bag cover, saya membuatnya dari kantong sampah. Hari semakin gelap,
kami pun menyalakan senter yang kami bawa. Setelah kami melewati jalur batu,
kami memasuki hutan kembali. Joe paling depan dan di belakangnya Arin, Irfan,
Baru saya yang paling belakang. Saat di tengah hutan, hutan tersebut Joe sempat
kaget karena ada pergerakan binatang seperti ular di depannya. Dan kita pun
terdiam sejenak. Setelah beberapa menit kemudian kita melanjutkan kembali
perjalanannya, kami sedikit nyasar karena kekurangan tanda. Setelah itu kami
menemukan pohon edelweiss yang cukup banyak, dan menurut Joe ini adalah Tegal
Alun. Di mana padang edelweiss itu banyak. Karena hari sudah malam, kita
mencari tempat untuk mendirikan tenda. Semakin malam hujan semakin deras, kami
pun kesulitan mencari tempat untuk mendirikan tenda. Karena dimana-mana banyak
genangan air. Setelah kami memutuskan untuk mendirikan tenda di dekat pohon,
saya langsung berinisiatif mencari rumput tinggi untuk menahan agar air tidak
masuk kedalam tenda. Setelah 5 menit mendirikan tenda akhirnya kami bisa Arin
dan Joe masuk kedalam tenda untuk membereskan barang-barang bawaan kita. Saya
dan Irfan membuat teras tenda yang hanya terbuat dari dahan pohon dan kantong
sampah. Setelah membuat teras saya dan Irfan masuk kedalam tenda dan kami pun
tertidur karena lelah.
![]() |
| Kawah lama |
![]() |
| Alief Baihaqki |
![]() |
| Pos awal pendakian |
17
January 2012
Jam
8.30 pagi hari kami pun bangun, dan kita menikmati udara sejuk di luar tenda
itu. Cuaca cerah berkabut, dan kami menikmati pemandangan edelweiss. Kita
bercanda-canda dan tertawa-tawa karena kegilaan-kegilaan yang terjadi di atas
gunung. Kita pun membuat sarapan pagi, sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah
saya memasuka tenda kedalam tas saya, kami pun mulai berangkat menuju puncak.
Baru 10 menit kita berjalan hujan deras membasahi tubuh dan tas kita. Langsung
buru-buru kita mengambil jas hujan dan rain cover untuk tas. Karena hujan dan
sedikitnya tanda di pohon. Kita semua kesusahan untuk mencari jalan. Dan saya
memutuskan untuk mengambil alih pemandu perjalanan.
![]() |
| Pondok Salada |
Karena hari semakin sore dan
masih hujan. Saya memutuskan dan di sepakati Joe, Arin dan Irfan untuk turun ke
bawah. Walaupun tidak melewati jalur. Kami memang tersesat, dan saya membuat
sobekan pada pohon, jika kami tersesat kami bisa kembali dengan melihat sobekan
yang saya buat. Sudah berjalan selama 30 menit kami masih dalam tengah hutan
yang sedikit lembab karena hujan. Saat berjalan saya melihat pohon edelweiss,
dan saya mengikuti pohon itu. Dan setelah kita mengikuti pohon edelweiss, kita
melihat tanah luas yang banyak pohon edelweiss. Kita semua merasa senang karena
menemukan tempat itu, dan Joe berteriak “ini baru namanya Tegal Alun”… Oh
berarti yang sebelumnya itu bukan. Ternyata kita salah perkiraan. Tegal Alun
itu tanah luas dan ada danau kecil. Kami dari tadi di perjalanan belum sempat
istirahat, jadi kami sedikit istirahat di Tegal Alun. Suasana di tempat ini
tertutup kabut semua, jadi kami bingung untuk menuju kemana kita harus
berjalan. Dan saya melihat aliran air kecil, kita mengikuti aliran tersebut.
Dan kami menemukan jalan bebatuan kembali. Tapi jalan ini menurun, jadi kami
harus mengeluarkan ekstra tenaga kami. Baru beberapa menuruni bebatuan ini,
kami beristirahat kembali. Dan kami mengobrol-ngobrol. Setelah kita memakan
coklat, Joe pun melihati dari atas, dan memberi tahu saya bahwa jalan ini
ujungnya tebing curam. Karena saya kurang yakin sama apa yang Joe lihat. Saya
pun menaruh tas saya untuk mengurangi beban saya, dan saya langsung turun
menyelusuri jalur bebatuan tersebut. Dan saya baru melihat bahwa jalur tersebut
putus dan jurang ini hanya bisa di lalui jika menggunakan tali. Dan saya pun
kembali ke atas untuk menemui yang lain. Dan kami kembali gagal menemukan jalurnya.
Arin dan Irfan panik karena tidak menemukan jalan. Saya pun sedikit bingung
karena penjelasan yang saya dapat dari orang di bawah hanya sedikit. Dan kita
pun memutuskan untuk berbalik arah. Setelah berbalik arah, akhirnya kami
mendapatkan petunjuk. Tidak jauh dari jalur bebatuan tersebut ada tali rapia
panjang dan 3 ikatan tali pendek. Saya pun mencoba untuk memasuki jalur
tersebut. Dan akhirnya saya mendapatkan tanda di jalur tersebut. Dan kami pun
menelusuri jalur tersebut. Di perjalanan itu kita banyak mendapatkan tanda. Hal
ini membuat kita semua bersemangat kembali, jalur ini pun jalur hutan. Banyak
pepohona yang menutupinya. Setelah berjalan beberapa lama, kita pun
beristirahat untuk makan kembali. Di tengah hutan lembab menurut saya, karena tanah
pun sangat berair. Kami makan nasi dan nugget, sisa persedian makan kami hanya
tinggal 1 indomie dan 1 bubur instant. Dan ada beberapa coklat yang kami bawa.
Setelah makan siang (padahal udah jam 5 sore), kami melanjutkan kembali.
Berjalan menelusuri hutan ini, dan kami menemukan apa yang kami kenal. Lembah
mati (Death Zone). Lembah ini alaskan tanah putih dan pepohonan hitam(seperti
kebakar). Kami menelusuri jalur death zone itu dan akhirnya saya bersama
teman-teman menemukan kembali tempat peristirahatan pondok Salada. OK, sekarang
apa yang kita lakukan di sini. Hari sudah mulai gelap dan sekarang menujukan
pukul 19.00 . Dan kita memutuskan untuk menginap di pondok Salada ini. Sebelum
hujan turun kita sudah mendirikan tenda. Dan kami di dalam tenda hanya bisa
merokok dan ngopi. Sedang asik-asiknya merokok, Joe mengeluarkan bau belerang
melalui pantatnya. Shiitt… Bau banget ini kentut, udah tau tenda ini pengap.
Tapi Joe keenakan kentut. Saya bertiga, akhirnya mengeluarkan kepala kami dari
dalam tenda, karena busuknya kentut Joe. Setelah selesai kami pun tertidur.
![]() |
| Di jalur cepat menuju puncak |
18 January 2012
Sebelum Subuh
Saya terbangun dari tidur
saya karena memimpikan balikan dengan mantan pacar saya (Muknisa). Dan saya
hanya melamun saat terbangun. Lalu saya menyadari ada sedikit ke janggalan,
bahwa tenda saya ada yang sedang mengelilingi. Saya kurang paham, apa yang
sedang mengelilingi itu. Saya hanya merasa merinding dan ingin sekali rasanya
pindah tempat. Dan saya memutuskan untuk memejamkan mata, dan tertidur kembali.
Jam 8.00
Kami pun bangun pagi karena
lapar, dan akhirnya kami membuat agar-agar. Setelah mengecek carier saya,
ternyata masih ada agar-agar. Kami menikmati agar-agar itu dengan 2 gelas kopi
panas. Setelah makan-makan, kami merapikan kembali tenda, dan bersiap-siap
untuk melakukan perjalanan pulang menuju pos bawah. Tepat pukul 12.00 kami
berangkat dari pondok salada menuju pos bawah. Kami menyelusuri jalur yang
sudah kami lewati kemarin hari. Dan setiba di sungai kami pun berencana untuk
makan siang. Dan kami memakan, makanan sisa ( bubur instant dan mie ). Setelah
itu kami kembali berjalan. Sesampai di pos bawah tepat pukul 15.00, kami
beristirahat sebentar sebelum berangkat ke terminal Guntur.
Sesampai di terminal Guntur
Kami akhirnya sampai juga di
terminal ini dan kami mengisi perut kosong ini dengan pecel ayam, kemudian kami
menaiki bus karunia bakti dan tetap membayar 35.000 rupiah. Setelah menempuh
perjalanan pulang kurang lebih 4 jam. Sekarang kami sudah sampai kota Jakarta
tepatnya di kampung Rambutan. Karena sekarang pukul 00.30 tepat tanggal 19
January 2012. Dan angkot pulang tidak ada. Saya dan joe terpaksa menginap di
dalam terminal kampung rambutan sampai kopaja kuning beroperasi. Arin dan Irfan
di jemput oleh Supirnya Arin….
Pesan dari saya : Kali ini
mungkin saya belom bisa menuju puncak Papandayan, tapi saya akan kembali lagi
ke Garut untuk menaiki 3 puncak gunung Cikuray, Papandayan, Guntur.











No comments:
Post a Comment