Monday, February 13, 2012

Carper Gunung Papandayan ( tidak sampai puncak )

Gunung Papandayan 2665 mdpl , Garut

15 January 2012



Perjalanan awal saya di awal tahun baru 2012, saya berangakat dari rumah di bintaro jam 16.40 . dan saya menunggu Jonathan Klemens (Joe) di pengkolan point square Lebak bulus. Saya bermula janjian dengan Joe di tempat itu, dan ternyata saya datang lebih awal. Jadi saya memutuskan untuk pergi terlebih dahulu ke Terminal Kampung Rambutan. Dengan membayar 3000 rupiah saya sampai juga di Terminal tersebut dengan menggunakan Kopaja kuning dengan no 509. Di Terminal Kampung Rambutan saya bertemu Citra Rinjani (Arin) dan Irfan tepat jam 18.30 Joe pun belum datang juga, Jadi kita harus menunggu Joe. Setelah beberapa menit kemudian Joe akhirnya datang, dan setelah itu kita berempat berangkat dengan menggunakan bis antar kota karunia bakti, jam 19.28 kita berangkat dari terminal Kampung Rambutan. Dan setelah nawar-nawar harga, memang kita harus membayar bis tersebut dengan 35.000 rupiah. 

I am



Pemandangan Cikuray dari atas mobil
 
 Saat di dalam bis, kita ke asikan mengobrol. Dan saya terjatuh dari kursi sampai tangga bis itu karena rem mendadak. Yang saya dapat hanya tawaan dari Joe dan Arin. Setelah selama kurang lebih 5 jam kami di dalam bis, kami akhirnya sampai di terminal Guntur. Kami berniat untuk bermalam di terminal tersebut. Setelah mencari-cari tempat peristirahatan, akhirnya kami dapat di masjid Jami al-mubarok. Masjid ini depan terminal Guntur. Setelah menaruh barang-barang kami. Kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Karena perut sudah kenyang akhirnya kami tidur…





Irfan
Citra Rinjani


16 January 2012



Dari subuh jam 4.30 pagi kita bangun,  dan kita mempacking ulang bawaan barang kita. Setelah kita selesai beres-beres, kita akhirnya berangkat lagi dari terminal Guntur menuju Alun-alun Cisurupan. Dengan membayar 5000 rupiah, kami di menaiki mobil angkot. Kira-kira 1 jam kami sudah sampai di Cisurupan. Sekarang jam menujukan jam 7.30 pagi, kami sedikit berjalan kaki menuju pos papandayan, karena kami tidak ingin menaiki ojek. Akhirnya kami menumpang di warung warga, untuk beristirahat sebentar. Setelah kami mencari angkutan ke pos Papandayan, akhirnya kami dapat mobil carry pick up. Kami menyewanya 50 ribu. Kami hanya berempat, mungkin sedikit mahal buat kami. Akhirnya kami berangkat jam 8.15 dari Cisurupan Ke Pos Papandayan. Akhirnya kami sampai di Pos Papandayan jam 9.22 , Kami makan pagi terlebih dahulu di warung, karena sepi, jadi hanya ada 1 warung yang buka. Dan belum kita ke mendaki papandayan, kita membayar uang retribusi dengan jumlah 5000 rupiah. Setelah kita membayar, kita berdoa terlebih dahulu.
Irfan, Arin, Joe, Alief di kawah lama
Motor pun bisa mendaki

Jam 10.00 16 January 2012



Kita memulai awal pendakian gunung papandayan, Awal perjalanan, kita melewati bebatuan yang menuju kawasan kawah lama. Kawah itu masih mengeluarkan asap putih dan bau belerang. Setelah beberapa perjalanan kita beristirahat di deket kawah itu dan melakukan foto-foto. Setelah kami beristirahat, akhirnya kami berjalan lagi melewati kawah tersebut. Setelah beberapa menit kami melewati kawah tersebut, kami akhirnya sampai di tempat yang menurut kami sangat enak. Tidak jauh dari kawah lama, ada rumput hijau. Disana kami bisa tidur-tiduran. Melepas beban yang kami bawa, sambil tidur-tiduran. Kita hanya menghabiskan beberapa menit saja untuk tidur-tiduran. Setelah beristirahat, kita melanjutkan perjalanan kembali. Tidak jauh dari tempat istirahat kita, saya melihat depan saya jurang. Bekas longsoran tahun 2002 itu, ternyata kita salah jalan. Dan akhirnya kita kembali lagi. Dan tidak ada jarak 5 meter dari longsoran tersebut ada jalan menuju ke bawah, akhirnya kami sadar bahwa jalan itu juga bisa di lalu oleh motor. Kami pun turun menyusuri jalan itu. Dan setelah beberapa menit kami menemukan aliran sungai kecil. Saya pun meminum air tersebut untuk menambah stamina. setelah aliran sungai, ada tanjakan. Kami menanjak kembali. Setelah tanjakan kami pun beristirahat sejenak. Sedang asik-asiknya istirahat, kami beristirahat ada penduduk setempat yang teriak kepada kita. Bahwa jalur yang kita lalu salah. Tapi itu pun suara samar-samar. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke aliran sungai. Awalnya saya ingin mengambil jalur menanjak melalui longsoran tersebut, untung sebelum saya menanjak ada warga yang memberi tahu bahwa jalan tersebut jauh. Jadi kita sebenarya tadi melalui jalur yang benar. Dan warga tersebut bilang “kalau kalian sudah sampai di atas ada 2 arah, yang kekiri menuju pondok salada yang ke kanan menuju bandung. Wow… Bandung… kita bisa menuju bandung hanya melewati gunung Papandayan. Akhirnya kami menuju jalur yang di kasih tahu oleh warga tersebut. Jalur itu seperti jalur air menanjak. Kira-kira kita melewati tanjakan tersebut kurang lebih 30 menit. Setelah kami sampai di atas tanjakan tersebut, kami beristirahat lagi. Itulah kami, kami tidak mengejar target. Karena kami bukan pecinta alam, tapi penikmat alam. Kami menikmati pemandangan indah dari atas tersebut. Kawah, longsoran, jalur yang tadi kita lewatin, semua terlihat dari ketinggian itu. Setelah kami selesai menikmati pemandangan dan sebatang coklat. Kami melanjutkan kembali perjalanan itu, kita melihat aliran air yang di bungkus oleh pipa plastik berwarna biru. Kita menelusuri jalur itu, dan kita melewati jalur yang diapit 2 tebing kecil. Setelah menelusuri jalur itu, kami menemukan jalur yang membagi 2 kiri ke pondok salada dan kekanan ke bandung. Kami mengambil kiri, gerbang menuju pondok salada kecil, hanya muat 2 orang jika didempetkan. Hari semakin sore, kami menelusuri hutan kembali, di gunung ini kami sedikit kesusahan karena tanda yang di buat pendaki lain hanya sedikit. Setelah kami melalui jalur hutan tersebut kami menemukan pondok salada. Pondok salada ini lapangan rumput yang luas, akhirnya kami beristirahat kembali. Dan kami di sini pun memasak untuk makan siang. Good job klemens, akhirnya kita bisa masak nasi juga. Nasi yang kita buat kali ini benar-benar nasi. Bukan bubur. Kami akhirnya masak nasi goreng sosis dan meminum air jahe. Wow… lengkap sudah pesta kita kali ini. Dan sebatang rokok 234, yang membuat pesta kita semakin lengkap. Kami tiba di pondok salada jam 15.25 dan selesai istirahat kita mendaki kembali. Kita mendaki melewati jalur cepat, jalur bebatuan. Kita berangkat dari pondok salada jam 17.09, sesampai di jalur batu itu kami harus mengeluarkan banyak tenaga. Karena tanjakan itu setinggi bahu rata-ratanya. Dan saat kita berada di jalur itu, hujan gerimis. Kami menyiapkan jas hujan dan bag cover agar tas kami tidak kehujanan. Karena saya tidak membawa bag cover, saya membuatnya dari kantong sampah. Hari semakin gelap, kami pun menyalakan senter yang kami bawa. Setelah kami melewati jalur batu, kami memasuki hutan kembali. Joe paling depan dan di belakangnya Arin, Irfan, Baru saya yang paling belakang. Saat di tengah hutan, hutan tersebut Joe sempat kaget karena ada pergerakan binatang seperti ular di depannya. Dan kita pun terdiam sejenak. Setelah beberapa menit kemudian kita melanjutkan kembali perjalanannya, kami sedikit nyasar karena kekurangan tanda. Setelah itu kami menemukan pohon edelweiss yang cukup banyak, dan menurut Joe ini adalah Tegal Alun. Di mana padang edelweiss itu banyak. Karena hari sudah malam, kita mencari tempat untuk mendirikan tenda. Semakin malam hujan semakin deras, kami pun kesulitan mencari tempat untuk mendirikan tenda. Karena dimana-mana banyak genangan air. Setelah kami memutuskan untuk mendirikan tenda di dekat pohon, saya langsung berinisiatif mencari rumput tinggi untuk menahan agar air tidak masuk kedalam tenda. Setelah 5 menit mendirikan tenda akhirnya kami bisa Arin dan Joe masuk kedalam tenda untuk membereskan barang-barang bawaan kita. Saya dan Irfan membuat teras tenda yang hanya terbuat dari dahan pohon dan kantong sampah. Setelah membuat teras saya dan Irfan masuk kedalam tenda dan kami pun tertidur karena lelah. 
Kawah lama

Alief Baihaqki
Pos awal pendakian
17 January 2012



Jam 8.30 pagi hari kami pun bangun, dan kita menikmati udara sejuk di luar tenda itu. Cuaca cerah berkabut, dan kami menikmati pemandangan edelweiss. Kita bercanda-canda dan tertawa-tawa karena kegilaan-kegilaan yang terjadi di atas gunung. Kita pun membuat sarapan pagi, sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah saya memasuka tenda kedalam tas saya, kami pun mulai berangkat menuju puncak. Baru 10 menit kita berjalan hujan deras membasahi tubuh dan tas kita. Langsung buru-buru kita mengambil jas hujan dan rain cover untuk tas. Karena hujan dan sedikitnya tanda di pohon. Kita semua kesusahan untuk mencari jalan. Dan saya memutuskan untuk mengambil alih pemandu perjalanan.
Pondok Salada
Karena hari semakin sore dan masih hujan. Saya memutuskan dan di sepakati Joe, Arin dan Irfan untuk turun ke bawah. Walaupun tidak melewati jalur. Kami memang tersesat, dan saya membuat sobekan pada pohon, jika kami tersesat kami bisa kembali dengan melihat sobekan yang saya buat. Sudah berjalan selama 30 menit kami masih dalam tengah hutan yang sedikit lembab karena hujan. Saat berjalan saya melihat pohon edelweiss, dan saya mengikuti pohon itu. Dan setelah kita mengikuti pohon edelweiss, kita melihat tanah luas yang banyak pohon edelweiss. Kita semua merasa senang karena menemukan tempat itu, dan Joe berteriak “ini baru namanya Tegal Alun”… Oh berarti yang sebelumnya itu bukan. Ternyata kita salah perkiraan. Tegal Alun itu tanah luas dan ada danau kecil. Kami dari tadi di perjalanan belum sempat istirahat, jadi kami sedikit istirahat di Tegal Alun. Suasana di tempat ini tertutup kabut semua, jadi kami bingung untuk menuju kemana kita harus berjalan. Dan saya melihat aliran air kecil, kita mengikuti aliran tersebut. Dan kami menemukan jalan bebatuan kembali. Tapi jalan ini menurun, jadi kami harus mengeluarkan ekstra tenaga kami. Baru beberapa menuruni bebatuan ini, kami beristirahat kembali. Dan kami mengobrol-ngobrol. Setelah kita memakan coklat, Joe pun melihati dari atas, dan memberi tahu saya bahwa jalan ini ujungnya tebing curam. Karena saya kurang yakin sama apa yang Joe lihat. Saya pun menaruh tas saya untuk mengurangi beban saya, dan saya langsung turun menyelusuri jalur bebatuan tersebut. Dan saya baru melihat bahwa jalur tersebut putus dan jurang ini hanya bisa di lalui jika menggunakan tali. Dan saya pun kembali ke atas untuk menemui yang lain. Dan kami kembali gagal menemukan jalurnya. Arin dan Irfan panik karena tidak menemukan jalan. Saya pun sedikit bingung karena penjelasan yang saya dapat dari orang di bawah hanya sedikit. Dan kita pun memutuskan untuk berbalik arah. Setelah berbalik arah, akhirnya kami mendapatkan petunjuk. Tidak jauh dari jalur bebatuan tersebut ada tali rapia panjang dan 3 ikatan tali pendek. Saya pun mencoba untuk memasuki jalur tersebut. Dan akhirnya saya mendapatkan tanda di jalur tersebut. Dan kami pun menelusuri jalur tersebut. Di perjalanan itu kita banyak mendapatkan tanda. Hal ini membuat kita semua bersemangat kembali, jalur ini pun jalur hutan. Banyak pepohona yang menutupinya. Setelah berjalan beberapa lama, kita pun beristirahat untuk makan kembali. Di tengah hutan lembab menurut saya, karena tanah pun sangat berair. Kami makan nasi dan nugget, sisa persedian makan kami hanya tinggal 1 indomie dan 1 bubur instant. Dan ada beberapa coklat yang kami bawa. Setelah makan siang (padahal udah jam 5 sore), kami melanjutkan kembali. Berjalan menelusuri hutan ini, dan kami menemukan apa yang kami kenal. Lembah mati (Death Zone). Lembah ini alaskan tanah putih dan pepohonan hitam(seperti kebakar). Kami menelusuri jalur death zone itu dan akhirnya saya bersama teman-teman menemukan kembali tempat peristirahatan pondok Salada. OK, sekarang apa yang kita lakukan di sini. Hari sudah mulai gelap dan sekarang menujukan pukul 19.00 . Dan kita memutuskan untuk menginap di pondok Salada ini. Sebelum hujan turun kita sudah mendirikan tenda. Dan kami di dalam tenda hanya bisa merokok dan ngopi. Sedang asik-asiknya merokok, Joe mengeluarkan bau belerang melalui pantatnya. Shiitt… Bau banget ini kentut, udah tau tenda ini pengap. Tapi Joe keenakan kentut. Saya bertiga, akhirnya mengeluarkan kepala kami dari dalam tenda, karena busuknya kentut Joe. Setelah selesai kami pun tertidur.
Di jalur cepat menuju puncak
18 January 2012



Sebelum Subuh



Saya terbangun dari tidur saya karena memimpikan balikan dengan mantan pacar saya (Muknisa). Dan saya hanya melamun saat terbangun. Lalu saya menyadari ada sedikit ke janggalan, bahwa tenda saya ada yang sedang mengelilingi. Saya kurang paham, apa yang sedang mengelilingi itu. Saya hanya merasa merinding dan ingin sekali rasanya pindah tempat. Dan saya memutuskan untuk memejamkan mata, dan tertidur kembali.



Jam 8.00



Kami pun bangun pagi karena lapar, dan akhirnya kami membuat agar-agar. Setelah mengecek carier saya, ternyata masih ada agar-agar. Kami menikmati agar-agar itu dengan 2 gelas kopi panas. Setelah makan-makan, kami merapikan kembali tenda, dan bersiap-siap untuk melakukan perjalanan pulang menuju pos bawah. Tepat pukul 12.00 kami berangkat dari pondok salada menuju pos bawah. Kami menyelusuri jalur yang sudah kami lewati kemarin hari. Dan setiba di sungai kami pun berencana untuk makan siang. Dan kami memakan, makanan sisa ( bubur instant dan mie ). Setelah itu kami kembali berjalan. Sesampai di pos bawah tepat pukul 15.00, kami beristirahat sebentar sebelum berangkat ke terminal Guntur.



Sesampai di terminal Guntur

Kami akhirnya sampai juga di terminal ini dan kami mengisi perut kosong ini dengan pecel ayam, kemudian kami menaiki bus karunia bakti dan tetap membayar 35.000 rupiah. Setelah menempuh perjalanan pulang kurang lebih 4 jam. Sekarang kami sudah sampai kota Jakarta tepatnya di kampung Rambutan. Karena sekarang pukul 00.30 tepat tanggal 19 January 2012. Dan angkot pulang tidak ada. Saya dan joe terpaksa menginap di dalam terminal kampung rambutan sampai kopaja kuning beroperasi. Arin dan Irfan di jemput oleh Supirnya Arin….



Pesan dari saya : Kali ini mungkin saya belom bisa menuju puncak Papandayan, tapi saya akan kembali lagi ke Garut untuk menaiki 3 puncak gunung Cikuray, Papandayan, Guntur.


No comments:

Post a Comment